Jumat, 21 Februari 2014

Work Hard, Play Hard

Gue sekarang udah kelas 9 (3 SMP). Dan sekarang, mengikuti latihan sana-sini untuk persiapan. Melelahkan, memang. Tapi, mau apa lagi? Itu memang kewajiban gue, sebagai pelajar. Belajar terus-menerus.

Gue sekarang mengalami syndrome gugup menjelang ujian. Bingung, takut nilai nggak mencukupi untuk masuk ke SMA impian gue. SMA impian gue itu masuk sekolah terbaik, dan standarnya tinggi banget. Gue serasa, hopeless. Entah kenapa nggak PD.


"Ntar kalo nilainya nggak cukup gimana?"
"Ntar kalo tiba-tiba gue gagap pas wawancara gimana?"
"Terus kalo gue nggak masuk situ, gue masuk mana? Swasta? Mampus!"


Pikiran-pikiran di atas terus menerus mengganggu gue selama ini. Jujur, gue orangnya nggak puas. Baik sama diri sendiri, maupun orang lain. Gue disiplin dan seringnya perfeksionisnya berlebihan. Iya, gue tau kalo di dunia ini gak ada yang sempurna. Tapi gue nggak tau kenapa, gue selalu memaksa diri gue mencapai target. Berat, tapi kalo gue inget keuntungan yang akan gue dapatkan, gue langsung semangat.

Ngerasa jenuh? Pasti. Hidup gue sering banget jenuh, itu-itu melulu. Berangkat sekolah, belajar, pulang. Apalagi kalau dikejar deadline. Gue disibukkan oleh tugas sekolah yang menumpuk. Kerja sampe malam, besok paginya presentasi, abis itu ngebahas soal-soal UN tahun lalu, dan terus-menerus seperti itu selama beberapa hari ini.

Kalau remaja yang lain lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-temannya, gue dengan keluarga gue. Gue sangat dekat dengan keluarga gue. Gue selalu me-nomorsatu-kan keluarga gue, untuk apapun. Nilai gue bagus, untuk mereka. Semua yang gue usahakan saat ini dan seterusnya, untuk keluarga gue.

Saat yang lain bilang moodbooster-nya adalah pacar, teman, dan lainnya, gue keluarga. Entah kenapa, setiap gue bangun tidur, gue langsung ikutan ketawa ngeliat mama gue ngakak liat muka bangun tidur gue. Setiap ada pertandingan sepak bola Timnas Indonesia, gue dan papa akan setia menonton. Kalau Indonesia memasukkan gol, gue akan pelukan sama papa sambil jingkrak-jingkrak.

Gue semangat belajar, karena mereka. Bukan karena mereka udah ngebiayain gue, ngebesarin gue, ataupun alasan klise lainnya. Gue sayang mereka, titik. Mau bagaimana mereka, gue tetap sayang sama mereka. Selalu. Selamanya.

Gue tau, hidup ini berat banget. 5 tahun yang akan datang, gue akan bolak-balik ke kampus, ngetuk pintu-ke-pintu perusahaan satu dengan yang lain, nyoba buat magang kerja, sekalian latihan buat nyari duit. Kita nggak akan tahu masa depan seperti apa yang akan kita hadapi. Serumit apapun rencana lo, pasti akan kalah sama rencana Tuhan.

Need a prove? Ini terjadi di hidup gue. Gue nggak pernah kepikiran akan tinggal di kota ini, di Jawa Tengah ini. Masa kecil gue dihabiskan di Bandung dan gue sama ortu udah berencana untuk tinggal permanen di Bandung, bahkan udah ngerancang gue untuk sekolah di SMP 5 Bandung, SMA 3 Bandung, lalu dilanjut ITB. But, who knows? Tiba-tiba papa yang pindah proyek, makanya gue nyasar pindah disini.


HIDUP INI PERJUANGAN, JENDRAL!


Yeah, memang betul. Hidup ini bener-bener perjuangan. Selama gue hidup sampe sekarang, perjuangan gue yang paling besar adalah di kota ini. Saat itu, gue kesulitan pindah sekolahnya. Gue lagi bahagia banget hidup di Bandung, dan tiba-tiba pindah ke negeri antah berantah tempat yang nggak pernah gue bayangin jadi tempat tinggal gue. Gue pusing pindah sekolah, dan sekolah yang cocok sama gue (karena ekskulnya banyak dan paling mirip sama sekolah gue di Bandung) adalah sekolah swasta, yang mayoritas siswanya beragama Katholik. Saat itu, gue diomongin tetangga sana-sini. "Haduh, masih ada sekolah lain yang bagus, kok malah masuk situ, sih?! Agamanya ntar gimana?!" Begitulah rata-rata pendapat mereka.

Itu baru perjuangan sekolah, belum lagi masalah rumah. Gue saat itu rumahnya masih ngontrak, dan pas jalan-jalan ada tanah yang masih kosong, sehingga mama dan papa punya inisiatif bangun rumah. Dananya susah banget. Serius. Pinjam saudara-saudara dan di bank. Apalagi, bangunnya itu buru-buru karena rumah kontrakan gue itu udah dibeli sama orang. Alhamdulillah, gue bisa menempati rumah ini, walaupun saat pertama kali tinggal disini, rumah ini belum 100% selesai pembangunannya.

Okay, back to topic. Maaf malah ujungnya cerita soal kehidupan pribadi gue dulu. Gue akhir-akhir ini mudah capek, under pressure buat ngedapetin impian gue ini. Intinya adalah, gue pengen minta do'a ke pembaca blog gue, semoga gue bisa sekolah di sekolah impian gue tersebut. Terima kasih! :)

Oya, gue punya satu gambar nih. #NeverGiveUpOnYourDreams


Tidak ada komentar:

Posting Komentar